Senin, 30 November 2015



TUGAS KEBUDAYAAN
INDIVIDU

NAMA      : Raudatul Jannah
NPM         : 15215689
KELAS     : 1EA01


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dari awal Indonesia telah ada banyak kebudayaan yang terbentuk dan dipercayai oleh banyak masyarakat Indonesia.Berbagai macam keyakinan dan berbagaimacam kepercayaan yang masyarakat jalankan bias saja dalam satu daerah ada perbedaan kebudayaan dan kepercayaannya.
Dari Indonesia telah merdeka hingga saat ini telah banyak pengalaman yang di dapat oleh Negara kita yaitu Negara Republik Indonesia,seperti pedoman di dalam kehidupan yaitu berbangsa dan bernegara adalah nilai-nilai dan norma-norma yang ada di Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, Budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Kebudayaan bermacam-macam seperti ada yang bersifat kerohatian dan yang lain-lain.Banyak sekali kebudayaan di Indonesia ini maka dari itu Indonesia sering dikenal sebagai kaya dengan kebudayaannnya banyak sekali orang luar negri ke Indonesia hanya untuk melihat kebudayaan Indonesia yang beragam.
B.Tujuan
Tujuan membuat makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Indonesia salah satunya adalah kebudayaan yang ada di Banjarmasin.
C.Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah masyarakat dapat mengenal kebudayaan Indonesia,bisa melestarikan kebudayaan Indonesia dan mempertahankan kebudayaan bangsa dalam global budaya.



BAB II
PEMBAHASAN
A.Rumah Adat
            Masyarakat Banjarmasin mempunyai beberapa rumah adat yang khas dan unik,salah satunya adalah Rumah Bubungan Tinggi. Dulu, rumah adat ini merupakan tempat tinggal Sultan Banjar sehingga menduduki tingkat tertinggi dari seluruh tipe rumah adat Banjar lainnya. Disebut Rumah Bubungan Tinggi karena bubungan atapnya berbentuk lancip dengan sudut 45o menjulang tinggi ke atas. Rumah Bubungan Tinggi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah atau yang bergelar Panembahan Batu Habang (1596–1620 Masehi).
                Rumah banjar bubungan tinggi adalah bangunan yang tertua dari seluruh tipe rumah tradisional. Pada masa kerajaan banjar, Bubungan tinggi dikenal sebagai istana sultan Banjar.

B.Karakteristik Ragam Hias Sasirangan
 Ragam hias Sasirangan berupa garis bergelombang yang pada sasirangan ini disebut naga balimbur, banyak dijumpai pada seni dan mitologi Kalimantan, terutama pada masyarakat pedalaman yang dikenal sebagai masyarakat “Dayak”. Awalnya teknik ini diterapkan pada wastra tradisional yang digunakan untuk keperluan tertentu, tetapi saat ini diproduksi secara komersial untuk pakaian. Produksi kain Sasirangan saat ini banyak dijumpai di Banjarmasin. 
Kain sasirangan memiliki motif warna yang cerah seperti merah, kuning, ungu, yang memberikan sensasi ceria bagi pemakainya.

 C.Pemaknaan
Berikut ini warna-warna sasirangan beserta maknanya:
  1. Kain sasirangan warna hitam menandakan bahwa pemakainya sedang menjalani terapi penyembuhan penyakit demam dan kulit gatal-gatal.
  2. Kain sasirangan warna hijau, berarti pemakainya sedang dalam terapi penyembuhan dari penyakit stroke.
  3. Kain sasirangan warna  cokelat menandakan pemakainya sedang berjuang melawan stres.
  4. Kain sasirangan warna merah, bertanda bahwa pemakainya sedang dalam proses penyembuhan sakit kepala dan sulit tidur.
  5. Kain sasirangan warna kuning memberi tanda bahwa pemakainya sedang menjalani terapi penyembuhan penyakit kuning.
  6. Kain sasirangan warna ungu adalah tanda bahwa pemakainya sedang dalam perawatan karena menderita penyakit perut (disentri, kolera, atau diare).

D.Pengaplikasian
Kain sasirangan digunakan pada upacara-upacara adat. Kain ini dibuat dengan cara menyirang (menjelujur), kemudian diikat dan dicelup. Dari cara membuatnya inilah kain ini disebut sasirangan.

E.Keunikan kain sasirangan
Keunikan dari kain sasirangan adalah pada sejarah mitosnya kain sasirangan tercipta dari kisah Patih Kerajaan Lambung Mangkurat yang ingin mendapatkan pendamping. Hingga dia memilih untuk bertapa selama 40 hari di atas rakit. Di ujung pertapaannya, rakit berada di muara sungai Lubuk Baduyu.
Di wilayah hulu Sungai Utara itulah, sang Patih dikejutkan oleh suara putri yang bersedia menjadi pendampingnya. Namun si putri mengajukan syarat, yaitu dibuatkan sebuah kain berwarna kuning keemasan, berupa kain Cacalupan yang dikerjakan oleh 40 gadis dalam sehari.
Mitologi inilah yang menyertai munculnya kain sasirangan, yang pembuatannya dengan cara dicelup.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pengaruh yang paling dominan terlihat pada elemen dekoratifnya, baik dari jenis, tatanan maupun peletakkannya. Hal ini berarti rumah sebagai wadah aktifitas penghuninya baik aktifitas jasmani maupun rohani merupakan bentuk fisik kebudayaan, yang tentu saja mewujudkan bentuk-bentuk khusus dari pola pikir penghuninya. Religi sebagai tuntunan dan acuan hidup tentu saja juga mempengaruhi pola pikir umatnya. Di sini terjadi suatu sistem yang saling melengkapi, baik rumah yang memiliki peran terhadap pemenuhan tuntutan suatu religi maupun religi yang memiliki peran terhadap proses pembentukan suatu bangunan tradisional atau rumah adat.
Agar lebih berkembang sebaiknya kain sasirangan di munculkan pada pentas seni anak muda, agar mereka lebih mengenal ragam hias dari kalimantan selatan. Dan agar mereka tidak mali untuk memakainya. Atau dengan cara menampilkan pameran seni yang memperkenalkan berbagai macam motif dari kain sasirangan.
            Kurang lebihnya mohon maaf jika ada kesalahan.Terimakasih

Daftar Pustaka