TUGAS
KEBUDAYAAN
INDIVIDU
NAMA : Raudatul Jannah
NPM : 15215689
KELAS : 1EA01
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dari awal Indonesia telah ada banyak kebudayaan yang terbentuk dan
dipercayai oleh banyak masyarakat Indonesia.Berbagai macam keyakinan dan
berbagaimacam kepercayaan yang masyarakat jalankan bias saja dalam satu daerah
ada perbedaan kebudayaan dan kepercayaannya.
Dari Indonesia telah merdeka hingga saat ini telah banyak pengalaman yang
di dapat oleh Negara kita yaitu Negara Republik Indonesia,seperti pedoman di
dalam kehidupan yaitu berbangsa dan bernegara adalah nilai-nilai dan
norma-norma yang ada di Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Kata Kebudayaan berasal
dari bahasa Sanskerta, Budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi
atau akal.Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Kebudayaan
bermacam-macam seperti ada yang bersifat kerohatian dan yang lain-lain.Banyak
sekali kebudayaan di Indonesia ini maka dari itu Indonesia sering dikenal
sebagai kaya dengan kebudayaannnya banyak sekali orang luar negri ke Indonesia
hanya untuk melihat kebudayaan Indonesia yang beragam.
B.Tujuan
Tujuan
membuat makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Indonesia salah
satunya adalah kebudayaan yang ada di Banjarmasin.
C.Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah masyarakat dapat
mengenal kebudayaan Indonesia,bisa melestarikan kebudayaan Indonesia dan
mempertahankan kebudayaan bangsa dalam global budaya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.Rumah
Adat
Masyarakat
Banjarmasin mempunyai beberapa rumah adat yang khas dan unik,salah satunya adalah
Rumah Bubungan Tinggi. Dulu, rumah adat ini merupakan tempat tinggal Sultan
Banjar sehingga menduduki tingkat tertinggi dari seluruh tipe rumah adat Banjar
lainnya. Disebut Rumah Bubungan Tinggi karena bubungan atapnya berbentuk lancip
dengan sudut 45o menjulang tinggi ke atas. Rumah Bubungan Tinggi ini diperkirakan sudah ada sejak abad
ke-16, yaitu ketika daerah Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah atau yang
bergelar Panembahan
Batu Habang (1596–1620 Masehi).
Rumah banjar
bubungan tinggi adalah bangunan yang tertua dari seluruh tipe rumah
tradisional. Pada masa kerajaan banjar, Bubungan tinggi dikenal sebagai istana
sultan Banjar.
B.Karakteristik Ragam Hias
Sasirangan
Ragam
hias Sasirangan berupa garis bergelombang yang pada sasirangan ini disebut naga
balimbur, banyak dijumpai pada seni dan mitologi Kalimantan, terutama pada
masyarakat pedalaman yang dikenal sebagai masyarakat “Dayak”. Awalnya teknik
ini diterapkan pada wastra tradisional yang digunakan untuk keperluan tertentu,
tetapi saat ini diproduksi secara komersial untuk pakaian. Produksi kain
Sasirangan saat ini banyak dijumpai di Banjarmasin.
Kain sasirangan memiliki motif warna
yang cerah seperti merah, kuning, ungu, yang memberikan sensasi ceria bagi
pemakainya.
C.Pemaknaan
Berikut ini warna-warna sasirangan
beserta maknanya:
- Kain sasirangan warna hitam menandakan bahwa pemakainya sedang menjalani terapi penyembuhan penyakit demam dan kulit gatal-gatal.
- Kain sasirangan warna hijau, berarti pemakainya sedang dalam terapi penyembuhan dari penyakit stroke.
- Kain sasirangan warna cokelat menandakan pemakainya sedang berjuang melawan stres.
- Kain sasirangan warna merah, bertanda bahwa pemakainya sedang dalam proses penyembuhan sakit kepala dan sulit tidur.
- Kain sasirangan warna kuning memberi tanda bahwa pemakainya sedang menjalani terapi penyembuhan penyakit kuning.
- Kain sasirangan warna ungu adalah tanda bahwa pemakainya sedang dalam perawatan karena menderita penyakit perut (disentri, kolera, atau diare).
D.Pengaplikasian
Kain sasirangan digunakan pada
upacara-upacara adat. Kain ini dibuat dengan cara menyirang (menjelujur),
kemudian diikat dan dicelup. Dari cara membuatnya inilah kain ini disebut
sasirangan.
Keunikan dari kain sasirangan adalah
pada sejarah mitosnya kain sasirangan tercipta dari kisah Patih Kerajaan
Lambung Mangkurat yang ingin mendapatkan pendamping. Hingga dia memilih untuk
bertapa selama 40 hari di atas rakit. Di ujung pertapaannya, rakit berada di
muara sungai Lubuk Baduyu.
Di wilayah hulu Sungai Utara itulah,
sang Patih dikejutkan oleh suara putri yang bersedia menjadi pendampingnya.
Namun si putri mengajukan syarat, yaitu dibuatkan sebuah kain berwarna kuning
keemasan, berupa kain Cacalupan yang dikerjakan oleh 40 gadis dalam sehari.
Mitologi inilah yang menyertai
munculnya kain sasirangan, yang pembuatannya dengan cara dicelup.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh yang paling dominan terlihat pada elemen dekoratifnya, baik dari
jenis, tatanan maupun peletakkannya. Hal ini berarti rumah sebagai wadah
aktifitas penghuninya baik aktifitas jasmani maupun rohani merupakan bentuk
fisik kebudayaan, yang tentu saja mewujudkan bentuk-bentuk khusus dari pola
pikir penghuninya. Religi sebagai tuntunan dan acuan hidup tentu saja juga mempengaruhi
pola pikir umatnya. Di sini terjadi suatu sistem yang saling melengkapi, baik
rumah yang memiliki peran terhadap pemenuhan tuntutan suatu religi maupun
religi yang memiliki peran terhadap proses pembentukan suatu bangunan
tradisional atau rumah adat.
Agar lebih
berkembang sebaiknya kain sasirangan di munculkan pada pentas seni anak muda,
agar mereka lebih mengenal ragam hias dari kalimantan selatan. Dan agar mereka
tidak mali untuk memakainya. Atau dengan cara menampilkan pameran seni yang memperkenalkan
berbagai macam motif dari kain sasirangan.
Kurang
lebihnya mohon maaf jika ada kesalahan.Terimakasih
Daftar
Pustaka
